Jumat, 27 November 2020

PAI KELAS XI BAB 7 RASUL-RASUL KEKASIH ALLAH Swt.

 

BAB 7

RASUL-RASUL KEKASIH ALLAH Swt.

A.    PENGERTIAN IMAN KEPADA RASUL-RASUL ALLAH Swt.

Iman kepada rasul berarti meyakini bahwa rasul itu benar-benar utusan Allahn Swt. Yang ditugaskan untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan akhirat,

Nabi

Rasul

Manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah Swt. Untuk dirinya sendiri dan tidak mempunyai kewajiban untuk menyampaikan pada umatnya

Manusia pilihan Allah Swt. Yang diangkat sebagai utusan untuk menyampaikan firman-firman-Nya kepada umat manusia agar dijadikan pedoman hidup.

 

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Abi Zar r.a bahwa Rasulullah saw. Ketika ditanya tentang jumlah para nabi, beliau menjawab, “ jumlah para nabi itu adalah 124.000 nabi, sedangkan jumlah rasul 315. Sementara At-Turmuzy meriwayatkan Hadits dari Abi Zar r.a juga, menjelaskan bahwa Rasulullah saw menjawab,” jumlah para nabi itu adalah 124.000 nabi, sedangkan jumlah rasul 312.”jumlah nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi ada lima, yaitu Nabi Nuh a.s, Ibrahim a.s, Musa a.s, Isa a.s, dan Muhammad saw.

ulul azmi yaitu gelar khusus yang diberikan kepada beberapa nabi dan rosul yang memiliki ketabahan dan kesabaran yang luar biasa, ketika sedang berdakwah menyebarkan agama islam.

Perintah beriman kepada rasul Allah Swt. Terdapat dalam surah an-Nisa’ : 136



Artinya “ wahai orang-orang yang beriman ! tetaplah beriman kepada Allah Swt. Dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (al-Qur’an) yang diturunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh (QS an-Nisa’ :136)

B.     SIFAT-SIFAT RASUL ALLAH Swt.

1.      SIFAT WAJIB

Sifat wajib artinya sifat yang pasti ada pada rasul.

a.      As-Siddiq

Yaitu rasul selalu benar

b.      Al-Amanah

Yaitu rasul selalu dapat dipercaya

c.       At-Tablig

Yaitu rasul selalu menyampaikan wahyu

d.      Al-Fatanah

Yaitu rasul memiliki kecerdasan yang tinggi

2.      SIFAT MUSTAHIL

Sifat mustahil adalah sifat yang tidak mungkin ada pada rasul. Sifat mustahil ini lawan atau kebalikan dari sifat wajib.

a.      Al-Kizib

Yaitu mustahil rasul itu bohong atau dusta

b.      Al-Khianah

Yaitu mustahil rasul itu khianat

c.       Al-Kitman

Yaitu mustahil rasul itu menyembunyikan kebenaran

d.      Al-Baladah

Yaitu mustahil rasul itu bodoh.

3.      SIFAT JAIZ

Sifat Jaiz bagi rasul adalah sifat kemanusiaan, yaitu al-ardul basyariyah, artinya rasul memiliki sifat-sifat sebagaimana manusia biasa seperti lapar, haus, sakit, tidur, sedih, senang, berkeluarga dan lain sebagainya. Bahkan seorang rasul tetap meninggal sebagai mana makhluk lainnya.

Rasul juga memiliki sifat-sifat yang tidak terdapat pada selain Rasul, yaitu seperti berikut.

1.      Ishmaturrasul

Adalah orang yang ma’shum, terlindung dari dosa dan salah dalam kemampuan pemahaman agam, ketaatan, dan menyampaikan wahyu Allah.

2.      Iltizamurrasul

Adalah orang-orang yang selalu komitmen dengan apa pun yang mereka ajarkan.

C.    TUGAS RASUL-RASUL ALLAH Swt.

Di antara tugas-tugas rasul itu sebagai berikut.

1.      Menyampaikan risalah dari Allah Swt

2.      Mengajak kepada Tauhid, meng Esa kan Allah

3.      Memberi kabar gembira kepada orang mukmin dan memberi peringatan kepada orang kafir

4.      Menunjukkan jalan yang lurus

5.      Membersihkan dan menyucikan jiwa manusia serta mengajarkan kitab dan hikmah

6.      Sebagi hujjah bagi manusia

 

D.    HIKMAH BERIMAN KEPADA RASUL-RASUL ALLAH Swt.

Di antara hikmah dan manfaat beriman kepada rasul sebagai berikut.

1.      Makin sempurna imannya

2.      Terdorong untuk menjadikan contoh dalam hidupnya

3.      Terdorong untuk melakukan prilaku sosial yang baik

4.      Memiliki teladan dalam hidupnya

5.      Mencintai para rasul dengan cara mengikuti dan mengamalkan ajarannya

6.      Mengetahui hakikat dirinya bahwa ia diciptakan oleh Allah untuk mengabdi kepada-Nya

 

 

Kamis, 26 November 2020

PAI KELAS XI BAB 11 TOLERANSI SEBAGAI ALAT PEMERSATU BANGSA

 

BAB 11

TOLERANSI SEBAGAI ALAT PEMERSATU BANGSA

A.    PENTINGNYA PRILAKU TOLERANSI

Toleransi bearti menghormati dan belajar dari orang lain,toleransi merupakan awal dari sikap menerima bahwa perbedaan bukannlah suatu hal yang salah, justru perbedaan harus dihargai dan dimengerti sebagai kekayaan. Misalnya perbedaan Ras, Suku, agama, adat istiadat, cara pandang, prilaku, pendapat.

Terkait pentingnya tolerasnsi, Allah Swt menegaskan dalam firman-Nya sebagai berikut :

 


Artinya “ dan diantara mereka ada orang-orang beriman kepadanya (al-Qur’an) dan  diantaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. Yunus:40)

“dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjaka.” (Q.S Yunus:41)

Ayat diatas menjelaskan perlunya menghargai perbedaan dan toleransi. Cara menghargai perbedaan dan toleransi antara lain tidak mengganggu aktivitas keagamaan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap toleran perlu dikembangkan.

Dalam masalah keimanan (aqidah) dan peribadatan (ibadah), kita berpegang pada keyakinan tanpa bergeser sedikitpun, tetapi tetap menghargai orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita.

Manusia diberi kebebasan untuk memilih agama atau keyakinan mana pun karena agama adalah hak azasi manusia. Akan tetapi, semua pilihan itu ada konsekuensinya. Manusia harus bertanggung jawab terhadap pilihannya tersebut.

Allah menjanjikan surga bagi yang bertaqwa dan neraka bagi orang-orang dhalim

Dalam pergaulan hidup bermasyarakat antara umat Islam dan umat lain  (non-Islam) hendaknya saling menghormati dan menghargai serta boeh bekerja sama dalam urusan dunia demi terwujudnya keamanan, ketertiban, kedamaian, dan kesejahteraan bersama.

B.     MENGHINDARI  DIRI DARI PRILAKU TINDAK KEKERASAN

 

Islam melarang prilaku kekerasan terhadap siapapun, Allah Swt berfirman :

 


Artinya “ oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain (qisas), atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul-rasul kami telah datang kepad amereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak diantara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.” (Q.S al-Maidah:32)

Allah menjelaskan dalam ayat ini, bahwa setelah peristiwa pembunuhan Qabil terhadap Habil, Allah Swt. Menetapkan suatu hukum bahwa membunuh seorang manusia, sama dengan membunuh seluruh manusia. Begitu juga menyelamatkan kehidupan seorang manusia, sama dengan menyelamatkan seluruh manusia.

Dalam QS. Al-Maidah : 32 terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik.

1.     1.  Nasib kehidupan manusia sepanjang sejarah memiliki kaitan dengan orang lain

2.     2.  Nilai suatu pekerjaan berkaitan dengan tujuan mereka

3.      3. Dokter, perawat, polisi harus mengerti nilai pekerjaan mereka, menyembuhkan atau menyelamatkan nyawa seseorang (dengan izin Allah) bagaikan menyelamatkan sebuah masyarakat dari kehancuran.

Tugas kita bersama adalah menjaga ketentraman hidup dengan cara mencintai orang-orang yang berada disekitar kita. Artinya kita dilarang melakukan prilaku-prilaku yang dapat merugikan orang lain, termasuk menyakiti dan melakukan tindakan kekerasan.

Di Indonesia ada hukum yang mengatur pelarangan melakukan tindakan kekerasan, termasuk kekerasan kepada anak dan anggota keluarga, misalnya UU No. 23 Tahun 2002 dan UU 23 Tahun 2004.

PAI KELAS XI BAB 6 PRILAKU TAAT, KOMPETISI DALAM KEBAIKAN, DANM ETOS KERJA

 

BAB 6

PRILAKU TAAT, KOMPETISI DALAM KEBAIKAN, DANM ETOS KERJA

 

A.     PENTINGNYA TAAT KEPADA ATURAN

Taat memiliki arti tunduk (kepada Allah Swt., Rasul, Pemerintah dsb).

Aturan adalah tindakan atau perbuatan yang harus dijalankan. Aturan dibuat agar terjadi ketertiban dan ketenteraman.

Aturan yang paling tinggi adalah aturan yang dibuat oleh Allah Swt. Yaitu yang terdapat pada al-Qur’an. Sementara di bawahnya ada aturan yang dibuat oleh Nabi Muhammad Saw., yang disebut sunah atau hadits. Di bahawhnya lagi ada aturan yang dibuat oleh pemimpin, baik pemimpin pemerintah, Negara, daerah, maupun pemimpin yang lain, termasuk pemimpin sekolah dan keluarga. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an  Surah An-Nisa : 59

 


Yang artinya “ wahai orang-orang yang beriman ! taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikannlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa : 59)

 

Tentang pengertian ulil amri, di bawah ini ada beberapa pendapat .

 

No

Nama Ulama

Pendapatnya

1

Abu Jafar Muhammad bin Jarir at-Thabari

Arti ulil amri adalah umara’, ahlul ‘ilmi wal fiqh (mereka yang memiliki ilmu pengetahuan akan fiqih).

2.

Al-Mawardi

Ada empat pendapat dalam mengartikan kalimat “ulil amri”, yaitu (1) umara (para pemimpin yang konotasinya adalah pemimpin masalah keduniaan), (2) ulama dan fuqaha, (3) sahabat-sahabat Rasulullah Saw, (4) dua sahabat saja, yaitu Abu Bakar dan Umar.

3

Ahmad Mustafa al-Maraghi

Bahwa ulil amri itu adalah umara, ahli hikmah, ulama, pemimpin pasukan, dan seluruh pemimpin lainnya.

Umat Islam wajib mentaati perinyah Allah dan Rasul-Nya, Umat Islam juga diperintahkan untuk menaati pemimpin. Apabila pemimpin memerintahkan kepada hal-hal baik wajib bagi kita mengikutinya, tetapi sebalikannya jika pemimpin tersebut mengajak kepada kemungkaran, wajib hukumnya untuk menolak atau tidak menaatinya.

 

 

 

B.    KOMPETISI DALAM KEBAIKAN

 


Kandungan ayat QS. Al-Maidah : 48 adalah bahwa Allah Swt. Memerintahkan kepada umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Mengapa kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan ?

Pertama : bahwa melakukan kebaikan tidak bisa ditunda-tunda, dan harus segera dikerjakan

Kedua: untuk berbuat baik hendaknya saling memotivasi dan saling tolong menolong, oleh karena itu, kita berkolaborasi atau kerja sama.

Ketiga, bahwa kesigapan melakukan kebaikan harus didukung dengan kesungguhan.

 

C.    ETOS KERJA

 

Seorang muslim haruslah menyeimbangkan antara kepentingan duni adan akhirat. Dalam al-qur’an maupun hadits ditemukan banyak literature yang memerintahkan seorang muslim untuk bekerja dalam rangka memnuhi dan melengkapi kebutuhan duniawinya dalam QS at-Taubah;105



Artinya “dan katakannlah,”bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada ( Allah) yang maha mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah:105)

 

TAJWID HUKUM BACAAN NUN MATI DAN TANWIN

                                                                               TAJWID

HUKUM BACAAN NUN MATI DAN TANWIN
 


Oleh Anhar Firmansyah, S.Pd.I
NIP. 19910621 201504 1 001


Ilmu Tajwid adalah ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah atau cara-cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar

Hukum bacaan nun mati dan tanwin di bagi menjadi 5 :
1.      Idhar
2.      Idghom Bigunnah
3.      Idghom Bilagunnah
4.      Iqlab
5.      Ikhfa

1.      IDHAR
Pengertian Idhar
Idhar  berasal dari bahasa Arab Dhohara yang artinya JELAS atau Tampak.
Menurut istilah adalah melafadzkan huruf idhar dari makhrojnya dengan suara jelas atau terang tanpa disertai mendengung.
Kaidah Idhar
Apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf Idhar yang 6, maka harus dibaca jelas.
Huruf-huruf Idhar ada 6 yaitu : ء   ه  ح  خ  ع  غ
Cara membacanya : JELAS
Contoh :

أَنْهَا ر -  أَنْعَمْتَ - غَفُورٌ حَلِيْمٌ

2.      IDGHOM BIGUNNAH
Pengertian Idghom Bibunnah
Idghom menurut bahasa adalah memasukkan / meleburkan
Idghom Bigunnah adalah memasukkan/meleburkan huruf Idghom Bigunnah dengan mendengung.
Kaidah Idghom Bigunnah
Apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf Idghom Bigunnah yang 4.

Huruf-huruf Idhar ada 4 yaitu : ي  ن  م  و  (يَنْمُوْ)
Cara membacanya :
huruf pertama yang berupa nun mati dan tanwin dimasukkan/dileburkan ke huruf yang ke dua (huruf Idghom Bigunnah) dengan disertai dengung
Contoh :

Pengecualian:
Apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan huru  ي dan و dalam satu kalimat, maka dibacanya menjadi JELAS (IDHAR).
Contoh:

3.      IDGHOM BILAGUNNAH
Pengertian Idghom Bilagunnah
Idghom menurut bahasa adalah memasukkan / meleburkan
Idghom Bilagunnah adalah memasukkan/meleburkan huruf Idghom Bilagunnah dengan tidak disertai dengung.
Huruf-huruf Idghom Bilagunnah ada 2 yaitu : ل  ر
Cara membacanya :
huruf pertama yang berupa nun mati dan tanwin dimasukkan/dileburkan ke huruf yang ke dua (huruf Idghom Bilagunnah) dengan tidak disertai suara dengung.
Contoh :

4.      IQLAB
Pengertian Iqlab
Iqlab menurut bahasa yaitu membalik atau menukar
Huruf-huruf Iqlab ada 1 yaitu : ب
Cara membacanya :
Apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ب cara membacanya huruf pertama yang berupa nun mati atau tanwin diganti/ditukar menjadi susara م (mim).
Contoh :

5.      IKHFA
Pengertian Ikhfa
Ikhfa artinya menyamarkan/menyembunyikan bunyi nun mati atau tanwin.
Huruf-huruf Ikhfa ada 15 yaitu :  ت  ث  ج  د  ذ  ز  س  ش  ص  ض  ط  ظ  ف  ق  ك
Cara membacanya :
Bunyi nun mati dan tanwin dibaca samar-samar antara jelas dan dengung, serta cara membacanya ditahan sejenak.
Kaidah :
Apabila ada nun mati dan tanwin bertemu dengan salah satu huruf ikhfa yang 15.
Contoh :

 مِنْ قَبْلِكُمْ  , جَا عِلٌ في